SELAMAT DATANG DI LAMAN PARSADAAN MARGA MANDAILING

Marga Rangkuti bukan marga dari tanah batak

Mandailing adalah suku tersendiri dan bukan suku batak. Pada tahun 1922-1926 terjadi perdebatan di Medan tentang hak orang muslim yang mengaku sebagai Batak untuk dikuburkan di tanah wakaf Mandailing di Sungai Mati, Medan. Mahkamah Syariah Deli memutuskan hanya orang Mandailing yang berhak dikuburkan pada tanah wakaf tersebut. Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu pengukuhan terhadap perbedaan identitas orang Mandailing dan Batak.Nama Mandailing termaktub dalam Kitab Nagarakertagama, yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M. Hal ini berarti sejak penggalan akhir abad abad ke-14 sudah diakui adanya suku bangsa dan wilayah bernama Mandailing. Sayangnya, selama lebih 5 abad Mandailing seakan-akan raib ditelan sejarah. Baru pada abad ke-19 saat Belanda menguasai tanah berpotensi daya alam ini, Mandailing pun mencatat sejarah baru. Kemudian disusul ke masa pendudukan Jepang Penyair besar Mandailing, Willem Iskander menulis sajak monumental "Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk", mengukir tanah kelahirannya yang indah dihiasi perbukitan dan gunung. Terbukti tanah Mandailing mampu eksis dengan potensi sumber daya alam, seperti tambang emas, kopi, beras, kelapa dan karet. Kekayaan alam dan kemajuan dalam berbagai sektor, mulai dari tradisi persawahan, perairan, hingga semakin besarnya pertumbuhan ekonomi di wilayah pantai barat ini maka disebut Mandailing Godang. Begitu juga marga rangkuti adalah marga sendiri bukan marga batak, salah satunya buktinya tidak ada marga rangkuti di tanah batak kecuali mungkin sekarang ini alah penduduk yang pindah ke tanah batak.
Orang-orang Mandailing bermarga Rangkuti dan pecahannya marga Parinduri, juga tidak menudukung pendapat yang mengatakan mereka bersal dari Toba. "...sampai kini tidak seorang pun marga Rangkuti yang menganggap dirinya Batak, tidak marmora (punya hubungan kerabat mertua) dan tidak maranak boru (punya hubungan kerabat bermenantu) ke Tanah Batak". Sebab "menurut penuturan yang dihimpun dari orang-orang tua di Mandailing dan disesuaikan pula dengan tarombo marga Rangkuti, bahwa Ompu Parsadaan Rangkuti (nenek moyang orang-orang bermarga Rangkuti) di Runding bernama Mangaraja Sutan Pane, yang pada kira-kira abad ke XI datang dari Ulu Panai membuka Huta Runding dan mendirikan kerajaan di sana. Kerajaan tersebut berhadapan dengan Harajaon (kerajaan) Pulungan di Hutabargot di kaki Tor (gunung) Dolok Sigantang di seberang sungai Batang Gadis kira-kira 16km dari Panyabungan". Versi lain pula mengatakan bahwa nenek moyang orang Mandailing bermarga Rangkuti pada mulanya datang "dari Aceh Selatan (dari Rondeng Tapak Tuan) menyusur pantai laut sampai ke Natal". Dari sana mereka kemudian turun ke Mandailing Godang dan mendirikan perkampungan mereka yang dinamakan Runding sesuai dengan nama tempat asal mereka.




2 comments:

Budiman Panjaitan said...

Peristiwa Sungai Mati.
Karena peristiwa itu sangat memalukan, raja-raja dari Tanah Batak Selatan, termasuk dari Mandailing membuat suatu Pernyataan Sikap yang terkenal dengan “Batak Maninggoring.”
Raja-raja yang menandatangani pernyataan itu antara lain adalah Raja Mangatas dari Pakantan Lombang, Sutan Soripada Panusunan dari Pakantan Buali, Mangaraja Panusunan dari Ulu, Sutan Kumala Bulan dari Tariang, Sutan Singa Soro Baringin dari Monambin, Mangaraja Panobaunan dari Kota Nopan, Mangaraja Sutan Soleangon dari Panombangan, Mangaraja Gunung Sorik Marapi dari Naga, Sutan Pandapotan dari Pidoli Bukit, Mangaraja Solompoon dari Kota Siantar, Mangaraja Panusunan dari Penyabungan Julu, Mangaraja Iskandar Panusunan dari Penyabungan Tonga, Sutan Bintang Pandapotan dari Gunung Baringin dan Patuan Kumala Bulan sebagai Kepala Kuria Gunung Tua. Semua raja ini berada dalam lingkungan underafdeeling Groot en Klein Mandailing, Ulu en Pakantan-Afdeeling Padang Sidimpuan. Pernyataan bersama itu ditandatangani di atas kertas bermaterai yang dibuat pada tanggal 18 Agustus 1922 dengan isi sebagai berikut:

“Menerangkan dengan sesoenggoehnya, bahwa bangsa dari pendoedoek Mandailing itoe ialah bangsa Batak; sedang agamanja sebagian besar Islam dan sebahagaian ketjil sekali agama Christen, ia-itoe dalam koeria Pakantan Lombang, Pakantan Boekit dan Kota Siantar. Nama Mandailing itoe boekanlah nama bangsa akan tetapi nama negeri (loehak).”

Digarisbawahi bahwa sesungguhnya Batak bukanlah nama sebuah negeri atau pun agama, tetapi nama sebuah bangsa di Indonesia yang bermukim di residentie Tapanuli. Sementara Mandailing bukanlah nama sebuah bangsa, melainkan nama sebuah luak di residentie tersebut. Setelah 20 tahun lebih, debat Mandailing versus Batak akhirnya berujung damai
Horas.

bung nats said...

Belakangan ini mulai diributi lagi ya?

Post a Comment

 
MARGA RANGKUTI By Pena Kimia ||| Website Design By Abdurriadi Rangkuti, S. Pd © 2012